Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan
Jumat, 30 Maret 2018
Oppo A83 Pro Dirilis Bawa Spek Lebih Tinggi

Oppo A83 Pro Dirilis Bawa Spek Lebih Tinggi

Foto: OppoFoto: Oppo

Jakarta - Rasanya Oppo A83 belum usang diperkenalkan, sekarang varian barunya resmi meluncur. Bernama Oppo A83 Pro, ponsel ini mengatakan spek lebih tinggi.

Secara tampilan ponsel ini tidak jauh berbeda dengan Oppo A83 yang diperkenalkan pertama kali di China pada Desember 2017. Layarnya masih berukuran 5,7 inch dengan mengusung aspek rasio 18:9 dan resolusi 1440 x 720 pixel.



Kamera belakangnya masih berukuran 13 MP dan kamera selfie 8MP. Perusahaan asal China ini menambahkan teknologi AI Beauty pada kamera depan. Oppo A83 Pro juga punya baterai 3.180 mAh. Saat dirilis ponsel ini menjalankan ColorOS 3.2 berbasis Android Nougat.

Persamaan lainnya terletak pada prosesor yang mentenagainya. Oppo masih memodali prosesor MediaTek MK6737T atau lebih dikenal Helio P23. Lantas di mana letak perbedaan dengan pendahulunya?

Oppo A83 Pro Dirilis Bawa Spek Lebih TinggiFoto: Oppo


Oppo rupanya menyematkan RAM lebih tinggi yaitu 4 GB. Begitu pula kapasitas memori internalnya dari 32 GB ditingkatkan menjadi 64 GB. Ruang penyimpanan sanggup ditambah dengan microSD yang didukung sampai 256 GB.

Dengan penambahan ini, ada harga yang harus dibayarkan. Saat dirilis di India, Oppo A83 Pro dilepas seharga 15.990 rupee atau sekitar Rp 3,5 juta. Sementara A83 dilepas seharga 13.990 rupee atau sekitar Rp 3 juta.



Belum ada informasi apakah Oppo A83 Pro akan diboyong ke Tanah Air. Tapi mengingat Oppo Indonesia menjual A83, besar kemungkinan ponsel tersebut akan dibawa serta.

Sumber detik.com
Ini Penyebab Perlambatan Stasiun Antariksa China Hantam Bumi

Ini Penyebab Perlambatan Stasiun Antariksa China Hantam Bumi

Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa Tiangong 1. Foto: Daily MailIlustrasi Stasiun Luar Angkasa Tiangong 1. Foto: Daily Mail

Jakarta - Ketidakpastian jatuhnya stasiun luar angkasa Tiangong-1 terus berlanjut. Kondisi itu akan berlangsung hingga wahana seberat 8,5 ton tersebut memasuki pada ketinggian orbit 120 kilometer.

Jatuhnya Tiangong-1 ke Bumi mengalami pelambatan sehingga berdampak pada bergesernya waktu jatuh benda milik China tersebut. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencatat pelambatan penurunan orbitnya dari ketinggian 200 kilometer menjadi 187 kilometer. Itu artinya, fase re-entry atau kembali ke atmosfer turun 3 kilometer per harinya.



Penelitian Bidang Astronomi dan Astrofisika Pusat Sains Antariksa LAPAN Rhorom Priyatikanto mengungkapkan bahwa laju penurunan ini bergantung pada kerapatan atmosfer atas (eksosfer).

"Belakangan ada letupan Matahari (flare) yang berpotensi menebalkan atmosfer. Atmosfer tebal, kendala meningkat. Letupan Matahari gres saja terjadi. Belum diperhitungkan pada asumsi sebelumnya (yang memperkirakan waktu jatuh mundur)," ujar Rhorom dalam pesan singkatnya.

Meski waktu jatuhnya diperkirakan bergeser dari yang semula 1 April, yang sekarang rentangnya lebih luas menjadi 1-3 April. Menurut Rhorom, ia berkeyakinan jikalau stasiun pertama milik Negeri Tirai Bambu tersebut akan menghantam Bumi sesuai yang diperhitungkan sebelumnya.

"Ada yang perkirakan waktu jatuhnya mundur, tapi berdasarkan aku waktunya masih 1 April," sebutnya.



Saat ini, informasi terbaru yang disampaikan LAPAN kepada detikINET menyampaikan Tiangong-1 terpantau di ketinggian sekitar 178 kilometer atau turun 9 kilometer dari hari kemarin.

Kepala Bagian Humas Masyarakat LAPAN Jasyanto menyampaikan sanggup dikatakan jatuh ketika memasuki ketinggian 120 kilometer. Dengan semakin cepatnya Tiangong-1 tertarik jatuh ke Bumi, disebutkan jikalau waktunya sanggup terjadi pada 1-2 April 2018.

Seperti diketahui, pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011, stasiun luar angkasa pertama Negeri Tirai Bambu tersebut mengorbit di ketinggian 350 kilometer.
Ini Penyebab Perlambatan Stasiun Antariksa China Hantam BumiFoto: Dok. LAPAN

Ketika itu, Tiangong-1 merupakan muatan dari Long March 2F yang diluncurkan di Jiuquan Satellite Launch Center, China.

Stasiun luar angkasa berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter dan dilengkapi bentengan panel surya di kedua sisinya ini, pernah ditempati para penjelajah antariksa dari China.

Namun semenjak 2016, Tiangong-1 sudah tidak sanggup dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Stasiun luar angkasa China itu berpotensi jatuh ke Bumi di wilayah pada rentang 43 derajat lintang utara hingga 43 derajat lintang selatan, termasuk Indonesia di dalamnya.


Sumber detik.com
Kamis, 29 Maret 2018
Soal Jatuhnya Tiangong-1, Lapan: Indonesia Belum Aman

Soal Jatuhnya Tiangong-1, Lapan: Indonesia Belum Aman

Ilustrasi stasiun luar angkasa Tiangong-1. Foto: Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa Tiangong 1 (Futurism)Ilustrasi stasiun luar angkasa Tiangong-1. Foto: Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa Tiangong 1 (Futurism)

Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan, wilayah Indonesia masuk ke dalam salah satu titik pendaratan stasiun antariksa milik China, Tiangong-1.

Berdasarkan laporan yang disampaikan China kepada PBB pada Desember 2017, Tiangong-1 memakai methylhydrazine dan dinitrogen tetroxide untuk materi bakarnya.

Pada laporan tersebut diungkapkan bahwa dari hasil analisis, sisa materi bakar (dalam jumlah yang tidak banyak lagi) kemungkinan akan terbakar dan musnah bersama bagian-bagian stasiun ketika memasuki fase re-entry atau masuk kembali ke atmosfer.

Kendati begitu, sebagaimana detikINET kutip dari situs orbit sains LAPAN, Kamis (29/3/2018), diperkirakan ada bab stasiun yang masih tersisa dan hingga ke permukaan Bumi dalam bab kecil, sehingga masyarakat perlu waspada.



Lembaga pemerintah non kementerian ini memprediksi waktu jatuhnya Tiangong-1 ke Bumi, pada 1 April 2018 pukul 08:57 WIB +/- jam.

LAPAN: Indonesia Belum Aman Kejatuhan Stasiun Tiangong-1Perkiraan lintasan Tiangong-1 pada 1 April 2018 pukul 08:27 hingga 09:27 WIB. Foto: Dok. LAPAN


LAPAN mengatakan, ketika ini masih terlalu dini untuk memprediksi lokasi atmospheric reentry secara lebih akurat.

Dari pemantauan dan prakiraan tersebut, LAPAN memperlihatkan kesimpulan sementara bahwa Indonesia belum sanggup dinyatakan kondusif dari kejatuhan Tiangong-1, stasiun antariksa pertama milik China yang berbobot 8,5 ton.

Di samping itu, diimbau epada masyarakat jikalau menemukan bab dari pecahan benda antariksa, disarankan segera menghubungi kepolisian terdekat. Jika perlu, mereka sanggup menghubungi LAPAN dan instansi terkait lainnya.

"Masyarakat yang merasa melihat insiden re-entry-nya di langit sanggup menghubungi Pusat Sains Antariksa LAPAN," kata LAPAN.


Sumber detik.com
Stasiun Antariksa China Jatuh, Sudah 200 Km Di Atas Indonesia

Stasiun Antariksa China Jatuh, Sudah 200 Km Di Atas Indonesia

Ilustrasi Tiangong-1 jatuh ke Bumi. Foto: Daily MailIlustrasi Tiangong-1 jatuh ke Bumi. Foto: Daily Mail

Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memantau kondisi terkini terkait jalur Tiangong-1. Sebab, stasiun antariksa pertama milik China tersebut akan mengalami fase re-entry atau kembali ke atmosfer dan jatuh ke Bumi.

Terbaru, melalui Track-It sebuah sistem pemantau benda jatuh dari antariksa buatan LAPAN, menemukan bahwa Tiangong-1 sempat melintasi wilayah Indonesia di atas ketinggian sekitar 200 kilometer. Itu berlangsung pada pukul 00.00 WIB kemarin.

Kondisi tersebut diumumkan oleh LAPAN melalui akun Instagram miliknya. Track-It, mendeteksi Tiangong-1 dengan wahana antariksa lainnya, menyerupai Iridium 13 yang diatas ketinggian 641 kilometer, Atlas 2A Centaur R/B ketinggian 4.894 kilometer, hingga Ariane 5 DEB ketinggian 4.723 kilometer.

Dari sistem Track-It ini menyebutkan Tiangong-1 yang diluncurkan pada September 2011 itu akan jatuh ke Bumi pada 2 April 2018.

Di Ketinggian 200 KM, Tiangong-1 Terpantau Melintasi IndonesiaTiangong-1 terpantau melintasi Indonesia. Foto: Dok. LAPAN




Sebelumnya, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin menyampaikan objek antariksa disebut jatuh saat sudah mencapai ketinggian 120 kilometer. Ketika itu, hanya dalam beberapa menit Tiangong-1 yang berbobot 8,5 ton, akan pecah dan terbakar.

"Pecahannya akan jatuh di sepanjang orbitnya, pada rentang jarak puluhan hingga ratusan kilometer," demikian klarifikasi Thomas melalui akun Facebook-nya, Rabu (28/3).

Thomas menuturkan, kecepatan jatuh objek antariksa bergantung pada kerapatan atmosfer. Sementara kerapatan atmosfer sendiri dipengaruhi acara Matahari dan medan magnet Bumi.

Variasi acara Matahari yang menjadikan rentang ketidakpastian waktu jatuhnya cukup besar. Tingkat akurasinya akan bertambah dengan makin dekatnya waktu jatuh. Sampai dengan pertengahan Maret, prakiraan waktu jatuh sekitar April, dengan ketidakpastian +/- 7 hari.



Pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011, stasiun luar angkasa pertama Negeri Tirai Bambu tersebut mengorbit di ketinggian 350 kilometer.

Ketika itu, Tiangong-1 merupakan muatan dari Long March 2F yang diluncurkan di Jiuquan Satellite Launch Center, China.

Stasiun luar angkasa berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter dan dilengkapi bentengan panel surya di kedua sisinya ini, pernah ditempati para penjelajah antariksa dari China.

Namun semenjak 2016, Tiangong-1 sudah tidak sanggup dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Stasiun luar angkasa China itu berpotensi jatuh ke Bumi di wilayah pada rentang 43 derajat lintang utara hingga 43 derajat lintang selatan, termasuk Indonesia di dalamnya.

Sumber detik.com